Halo sahabat Impessa Experience, di dunia kerja maupun organisasi, istilah capacity building sering banget kita dengar. Tapi sebenarnya apa sih maksudnya?
Secara sederhana, capacity building adalah proses untuk meningkatkan kapasitas individu, tim, atau organisasi agar lebih siap menghadapi tantangan, lebih kreatif dalam mencari solusi, dan tentunya lebih produktif. Jadi bukan sekadar “belajar teori”, tapi benar-benar meng-upgrade skill, mindset, dan kolaborasi.
Nah, masalahnya… belajar dengan cara konvensional kadang bikin cepat bosan. Bayangkan duduk berjam-jam mendengarkan presentasi—lama-lama ngantuk kan?
Di sinilah metode experiential learning hadir sebagai game-changer
Experiential learning adalah metode pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Peserta nggak cuma “mendengar” tapi mengalami, merasakan, dan merefleksikan. Konsep ini dikenal dengan siklus Kolb:
- Concrete Experience (Mengalami langsung) – peserta diajak praktik, games, simulasi, atau aktivitas nyata.
- Reflective Observation (Merefleksikan) – setelah aktivitas, peserta diajak berdiskusi tentang pengalaman yang barusan terjadi.
- Abstract Conceptualization (Menarik konsep) – dari refleksi tadi, peserta menyimpulkan nilai, teori, atau insight yang relevan.
- Active Experimentation (Mencoba lagi) – insight tersebut lalu diuji lagi dalam konteks aktivitas baru atau kehidupan sehari-hari.
Metode experiential learning bikin capacity building jadi lebih hidup dan ngena.
- Lebih engaging: peserta aktif terlibat, bukan hanya jadi pendengar pasif.
- Real impact: pengalaman nyata bikin pembelajaran lebih mudah diingat.
- Bangun teamwork: banyak aktivitas yang melatih komunikasi, leadership, dan kolaborasi.
- Fleksibel: bisa dipakai untuk berbagai topik, mulai dari pengembangan SDM, kepemimpinan, sampai problem solving.
Contohnya, dalam capacity building untuk tim kerja, fasilitator bisa mengajak peserta melakukan simulasi “bridge building challenge” (membangun jembatan dari bahan sederhana). Dari situ, peserta belajar koordinasi, pembagian peran, dan cara menyelesaikan konflik. Setelah refleksi, insight ini bisa langsung ditarik ke dunia kerja sehari-hari.
Jadi, capacity building dengan metode experiential learning bukan sekadar training biasa. Ini adalah proses belajar yang fun, penuh interaksi, dan langsung terasa manfaatnya. Bukan hanya “tahu”, tapi juga mampu melakukan dan menginternalisasi.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan organisasi bukan hanya orang-orang pintar, tapi juga tim yang punya kapasitas nyata untuk tumbuh bareng menghadapi tantangan.
Buat anda yang ada rencana akan mengadakan kegiatan Capacity Building untuk tim anda silahkan hubungi Impessa Experience yang akan membuat program Capacity Building anda dengan metode Experiential Learning yang akan membuat kegiatan anda lebih bermakna.